Pembangunan

Pemerintah dan PLN Nyalakan 1.433 Titik, Prabowo Siap Resmikan

1.433 lokasi listrik desa rampung dan menanti peresmian Presiden. Target 2026 naik jadi 2.792 lokasi dengan anggaran Rp10,3 triliun.

Foto: Biro Sekretariat Presiden

Program Listrik Desa sudah menyalakan 1.433 lokasi dari target 2025 dan menunggu peresmian Presiden Prabowo Subianto sebelum 14 Agustus. Di saat yang sama, 5.700 desa lain masih gelap.

Ruslan, 52 tahun, warga Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, menunggu hampir sepuluh tahun sebelum rumahnya benar-benar terang. Listrik di kampungnya menyala pada 15 Oktober 2025. Sebelum itu, keluarganya bergantung pada genset yang cuma dihidupkan dua kali sehari: sebentar seusai subuh, lalu pukul setengah enam sore sampai jam sepuluh malam. Biaya bahan bakarnya sekitar Rp390 ribu per bulan. Setelah tersambung jaringan PLN, pengeluaran listrik keluarganya turun sekitar Rp200 ribu. Istrinya, Samitri, seorang penjahit, tidak lagi harus berhenti menjahit saat genset mati.

Kisah seperti itulah yang kini sedang diakumulasi jadi angka nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan program tahun 2025 telah rampung di sekitar 1.400 desa dan siap diresmikan Presiden Prabowo Subianto. Data yang disampaikan Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada awal Juli 2026 lebih rinci: 1.433 lokasi selesai dari target 1.516 lokasi, terhitung sampai 27 Juni 2026.

Peresmiannya sendiri belum berlangsung. Pada 3 Agustus 2026, Bahlil menyebut tanggal pastinya masih dibahas dan menargetkan bulan Agustus, sebelum penyampaian RAPBN 2027 pada 14 Agustus. Sampai artikel ini disusun, belum ada pengumuman resmi soal tanggal maupun lokasi acara.

Masih ada 5.700 desa yang gelap

Rasio elektrifikasi Indonesia sudah menyentuh 99,83 persen menurut catatan Kementerian ESDM. Angka setinggi itu menyisakan pekerjaan yang justru paling sulit. Menurut Bahlil, per pertengahan 2026 masih ada 5.700 desa dan 4.400 dusun yang belum teraliri listrik. Sebagian besar berada di wilayah terpencil, di pulau kecil, atau di balik medan yang mahal dijangkau kabel.

Alasannya sederhana dan tidak nyaman: membangun jaringan ke sana tidak masuk hitungan bisnis. Investasinya besar, pelanggannya sedikit, tagihannya kecil. Di titik itu subsidi negara jadi satu-satunya jalan.

Anggaran naik hampir tiga kali lipat

Pemerintah menaikkan anggaran Listrik Desa 2026 menjadi Rp10,3 triliun, dari Rp3,6 triliun pada 2025. Sasarannya 2.792 lokasi yang diperkirakan menjangkau 137.266 calon pelanggan, dikerjakan dalam dua tahap: 1.520 lokasi pada tahap pertama dan 1.272 lokasi pada tahap kedua.

Angka “10 ribu lokasi” yang sering muncul di pemberitaan bukan target satu tahun. Darmawan Prasodjo menjelaskan program ini membidik 10.068 lokasi yang berasal dari 5.700 desa sepanjang 2025 sampai 2029, dengan cakupan sekitar 735.000 rumah tangga.

Efeknya sudah kelihatan di beberapa daerah. Di Maluku Utara, jumlah desa yang belum berlistrik turun dari sekitar 70 pada awal 2025 menjadi 43 pada 2026. Sampai April 2026, catatan Kementerian ESDM menunjukkan 1.403 lokasi rampung dan melayani 40.724 rumah tangga.

Yang masih jadi PR

Pertama, peresmiannya sendiri. Sampai 12 Agustus 2026, acara itu belum terjadi dan tanggalnya belum diumumkan. Selama belum diresmikan, klaim “program rampung” tetap berstatus laporan menteri, bukan fakta seremonial.

Kedua, angkanya belum seragam. Rincian PLN di DPR menyebut total kontrak dua tahap 2026 senilai Rp7,51 triliun, sementara pagu yang diumumkan Rp10,3 triliun. Selisih Rp2,79 triliun ini perlu penjelasan resmi soal apa saja yang masuk hitungan.

Ketiga, menyala bukan berarti andal. Sebagian lokasi terpencil dilayani pembangkit skala kecil yang jam operasinya terbatas. Bandar Jaya saja berjarak sekitar 130 kilometer dari Palembang dengan waktu tempuh tiga sampai empat jam. Perawatan jaringan di titik sejauh itu bukan perkara mudah.

Pemerintah menargetkan seluruh desa di Indonesia teraliri listrik paling lambat 2030. Artinya, dalam empat tahun ke depan, sisa 5.700 desa dan 4.400 dusun harus dituntaskan dengan kecepatan rata-rata di atas 1.400 lokasi per tahun. Sanggup?

Sumber & Rujukan