Presiden Prabowo Subianto menginginkan museum agung nasional yang baru di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, sebagai pusat sejarah, pendidikan, hiburan, dan rekreasi bagi masyarakat. Arahan itu ia sampaikan kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 5 November 2026. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan arahan tersebut di Jakarta, Kamis malam, menurut ANTARA, 6 November 2026.
“Setelah selesainya revitalisasi Galeri Nasional dan Museum Gajah, Bapak Presiden ingin Indonesia memiliki museum berskala besar yang menjadi pusat sejarah, pendidikan, hiburan, dan rekreasi, khususnya bagi para pelajar dan generasi muda,” kata Teddy Indra Wijaya di Jakarta, Kamis, menurut ANTARA. Pembangunan museum itu merupakan kelanjutan setelah rampungnya revitalisasi Galeri Nasional di Jalan Medan Merdeka Timur dan Museum Nasional Indonesia atau Museum Gajah di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Museum agung nasional di Monas
Menurut Teddy, pembangunan museum dan revitalisasi kawasan Monas bertujuan menjadikan kawasan tersebut lebih nyaman dan indah, sekaligus memperkuat nilai sejarah dan edukasi bagi masyarakat yang berkunjung.
Rapat terbatas itu juga dihadiri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin. Selain museum, pertemuan itu membahas revitalisasi kawasan Monas dan Stasiun Gambir serta pembangunan jaringan rel kereta api di Pulau Bali.
“Bapak Presiden berkeinginan agar revitalisasi kawasan Monas, Stasiun Gambir, dan pembangunan Grand Museum, serta pengembangan layanan kereta api di Bali tidak hanya menghadirkan fasilitas publik yang lebih baik, tetapi juga menjadi kebanggaan nasional,” ujar Teddy.
Rencana itu disusun berurutan. Revitalisasi Galeri Nasional dan Museum Gajah sudah rampung, dan museum agung nasional dibidik sebagai bangunan berskala besar berikutnya di kawasan Monas. Museum agung nasional itu memakai nama Grand National Museum dalam bahasa Inggris, menurut ANTARA.
Revitalisasi Monas dan Stasiun Gambir
Teddy menyampaikan salah satu arahan Prabowo adalah melakukan revitalisasi Stasiun Gambir, yang telah berdiri sejak era 1970-an dan belum pernah direnovasi, menurut Suara.com dan detikcom, 5 November 2026. Prabowo, kata Teddy, ingin revitalisasi Stasiun Gambir segera dilakukan. Stasiun Gambir diharapkan bisa menjadi pusat stasiun nasional sekaligus kawasan hiburan, wisata, dan rekreasi keluarga di jantung Ibu Kota, kata Teddy.
Yang masih jadi PR adalah mengubah keinginan itu menjadi bangunan yang berdiri di Monas. Sampai keterangan Teddy pada Kamis, 5 November 2026, tidak ada tanggal mulai pembangunan, anggaran, desain, luas, atau koleksi museum yang disebut dalam keterangan itu. Revitalisasi Stasiun Gambir juga masih berupa arahan untuk segera dilakukan, dan jalur kereta api di Bali masih pada tahap awal yang direncanakan.
Kereta api di Bali
Di Bali, pengembangan layanan kereta api pada tahap awal direncanakan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan sejumlah kawasan wisata, mulai dari Kuta, Legian, Seminyak, hingga Canggu, serta kawasan di wilayah utara, kata Teddy menurut Suara.com dan detikcom. Arahan itu disampaikan dalam pertemuan yang sama di Istana Merdeka, Kamis, 5 November 2026.
Keterangan itu disampaikan Teddy pada Kamis, 5 November 2026, dan dimuat Suara.com serta detikcom pada hari yang sama. Liputan6 memuat arahan yang sama pada 5 November 2026.
Ukurannya bisa dicek dari tiga hal yang sudah disebut: museum agung nasional berdiri di kawasan Monas dan dibuka sebagai pusat sejarah, pendidikan, hiburan, dan rekreasi; Stasiun Gambir selesai direvitalisasi dan berfungsi sebagai pusat stasiun nasional; jalur kereta api di Bali pada tahap awal menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan Kuta, Legian, Seminyak, dan Canggu.
Baca juga: Prabowo Limpahkan Tersangka Gratifikasi Rp37,8 Miliar Lewat KPK



