Indonesia menyiapkan pabrik magnet permanen berbahan logam tanah jarang dengan target 2028, di saat Tiongkok memegang 94 persen produksi magnet dunia. Kementerian ESDM menyusun aturan yang mewajibkan pengolahan LTJ di dalam negeri.
Sembilan puluh empat persen. Itu porsi Tiongkok dalam produksi magnet permanen sinter dunia pada 2024, menurut laporan Rare Earth Elements dari International Energy Agency. Dua puluh tahun lalu angkanya masih sekitar 50 persen. Magnet kecil berwarna keperakan itu menggerakkan motor mobil listrik, turbin angin, hard disk, alat kesehatan, sampai sistem pertahanan. Siapa yang menguasainya, ikut menentukan siapa yang bisa membangun industri elektrifikasi.
Indonesia kini bergerak masuk. Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan pembangunan pabrik pengolahan logam tanah jarang di segmen tengah rantai pasok akan dimulai dalam satu sampai dua bulan ke depan. “Insyaallah 2028, permanent magnet bisa ada di Indonesia,” ujarnya di forum MINDialogue 2026 di Jakarta, 12 Agustus 2026, seperti dilaporkan ANTARA. Magnet yang dituju berjenis NdFeB, paduan neodimium, besi, dan boron yang menjadi jantung motor traksi kendaraan listrik.
Rencana itu berjalan seiring penataan aturan. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyampaikan bahwa kementeriannya bersama Badan Industri Mineral tengah menggodok ketentuan tentang pengolahan dan pengembangan industri logam tanah jarang di dalam negeri. Pembahasannya masih dalam tahap koordinasi. Persoalannya nyata: kandungan LTJ yang menumpang di dalam ekspor mineral lain sempat menahan lebih dari seratus kapal muatan, sebelum sekitar 400 ribu ton komoditas senilai 124 juta dolar AS dilepas kembali.
Bahan bakunya sebagian sudah ada di halaman sendiri. Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan menjelaskan grup tambang pelat merah itu membidik logam tanah jarang dari residu pengolahan bauksit, slag nikel, dan produk samping timah. Artinya bukan tambang baru, melainkan tumpukan sisa yang selama ini dianggap limbah. “Jika Indonesia mampu memisahkan LTJ dari mineral ikutannya secara ekonomis dan efisien, sesungguhnya Indonesia sudah menjadi negara pengolah LTJ,” kata Ichdan pada 10 Agustus 2026. MIND ID menyusun peta jalan teknologi bersama Badan Industri Mineral dan BRIN.
Dorongan serupa datang dari sisi investasi. Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu bara BKPM Rizwan Aryadi Ramadhan meminta perusahaan tambang tidak berhenti di ekspor bahan mentah dan mengolah mineral kritis di dalam negeri, dari tahap awal sampai tahap akhir. Momentumnya masuk akal. IEA mencatat permintaan empat unsur magnet (neodimium, praseodimium, disprosium, dan terbium) sudah berlipat dua sejak 2015 dan diperkirakan bertambah sepertiga lagi menjelang 2030.
Yang masih jadi PR
Semuanya masih rencana. Sampai tulisan ini disusun, tidak ada nilai investasi, lokasi pabrik, maupun kapasitas produksi yang diumumkan resmi. Tanggal 2028 adalah target yang diucapkan pejabat, bukan tonggak yang sudah dikontrakkan.
Tantangan teknisnya berat. Memisahkan lima belas unsur tanah jarang yang sifat kimianya nyaris kembar membutuhkan puluhan hingga ratusan tahap ekstraksi pelarut, dan penguasaan proses itulah yang membuat Tiongkok sulit disalip. Indonesia baru menyusun peta jalannya lewat BRIN dan Badan Industri Mineral.
Ada pula soal limbah. Mineral pembawa LTJ seperti monasit mengandung thorium yang bersifat radioaktif, sehingga pengolahannya menuntut pengawasan ketat dan tempat penyimpanan residu yang aman. Data cadangan LTJ nasional juga belum terpetakan selengkap nikel atau bauksit, padahal keputusan investasi butuh kepastian angka. Ichdan sendiri mengingatkan bahwa kandungan LTJ berkadar rendah tidak otomatis layak diekstraksi.
Ukuran keberhasilan paling dekat justru sederhana: apakah pabrik pengolahan yang dijanjikan mulai dibangun dalam dua bulan ini, dan apakah aturan ESDM benar terbit dengan ambang kadar yang jelas. Dua hal itu yang menentukan apakah 2028 jadi tanggal produksi atau sekadar catatan rapat.
Sumber & Rujukan
- Indonesia akan bangun pabrik magnet permanen dari LTJ (ANTARA, 12 Agustus 2026)
- Bos Danantara Beberkan RI Akan Bangun Pabrik LTJ & Permanen Magnet (CNBC Indonesia, 12 Agustus 2026)
- ESDM Godok Aturan Hilirisasi Logam Tanah Jarang, Pengolahan di Dalam Negeri (Bisnis.com, 11 Agustus 2026)
- MIND ID perluas hilirisasi bauksit ke logam tanah jarang (ANTARA, 10 Agustus 2026)
- BKPM dorong perusahaan tambang lakukan hilirisasi mineral kritis LTJ (ANTARA, 29 Juli 2026)
- Rare Earth Elements, Executive Summary (International Energy Agency)
- Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia (Badan Geologi, Kementerian ESDM)



