Realisasi investasi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencapai rp116 triliun sepanjang Januari sampai September 2026, melampaui target tahunan Rp93,89 triliun dan menempatkan provinsi itu pada peringkat ketiga nasional dalam realisasi investasi, setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng Mohammad Rifani Pakamundi menyampaikan capaian itu di Palu. Menurut ANTARA, ia mengatakan Sulteng berada di peringkat ketiga nasional setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Target tahunan sudah terlampaui sebelum tahun berakhir, dan angka itu dicatat pada akhir September 2026.
Triwulan III menjadi penyumbang terbesar. Menurut Kailipost yang mengutip DPMPTSP Sulteng, realisasi triwulan III mencapai Rp47,31 triliun, tumbuh 29,27 persen dibanding triwulan II dan 41,67 persen dibanding triwulan III 2025, sekaligus menjadi triwulan dengan realisasi tertinggi sepanjang 2026. Secara kumulatif, Januari sampai September mencapai rp116 triliun, atau 123,55 persen dari target tahunan Rp93,89 triliun.
Rp116 triliun ditopang penanaman modal asing
Penanaman modal asing (PMA) menjadi penopang utama capaian rp116 triliun itu. Sulteng berada di peringkat 2 nasional untuk PMA dengan kontribusi Rp110,0 triliun atau 14,1 persen dari PMA nasional, di bawah Jawa Barat dan di atas Maluku Utara, menurut Kailipost. Di sisi sebaran wilayah, realisasi di Jawa mencapai Rp759,8 triliun dan di luar Jawa Rp779,4 triliun, dan Sulteng termasuk kontributor utama kelompok luar Jawa, menurut Kailipost.
Skala nasional memberi pembanding. Realisasi investasi nasional Januari sampai September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun, atau 75,4 persen dari target nasional, menurut Kailipost. Komposisinya: PMA Rp777,8 triliun atau 50,5 persen, dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp761,4 triliun atau 49,5 persen.
Tenaga kerja dan pembanding tahun lalu
Manfaatnya mulai terukur dari penyerapan tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja nasional Januari sampai September tercatat 2.194.496 orang, dengan kontribusi Sulawesi Tengah sebesar 25.436 orang, setara sekitar 1,16 persen dari penyerapan nasional, menurut Kailipost. Dibanding periode yang sama tahun lalu, capaian Sulteng naik dari Rp97,61 triliun pada Januari sampai September 2025, sementara realisasi sepanjang 2025 mencapai Rp127,20 triliun.
Yang masih jadi PR adalah memastikan angka besar itu sampai ke warga. “Namun, ukuran keberhasilan investasi tidak hanya dinilai dari besarnya realisasi, melainkan seberapa besar rakyat Sulteng merasakan manfaatnya,” ujar Matindas, anggota DPR RI, kepada Gesuri pada 1 November 2026. Ia mengingatkan agar investasi diiringi upah yang layak, kepastian hubungan kerja, serta penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sesuai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap tata ruang, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), dan mitigasi risiko bencana di setiap proyek, mengingat gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 2018 serta gempa M6,7 di Palu pada Juni 2025.
Ukurannya bisa dicek dari angka yang sudah ada. Target tahunan Rp93,89 triliun sudah terlampaui dengan capaian rp116 triliun pada akhir September 2026, dan realisasi sepanjang 2025 sebesar Rp127,20 triliun menjadi pembanding penutup tahun ini. Angka penutup tahun dan penyerapan tenaga kerja akan menunjukkan apakah peringkat ketiga nasional itu bertahan.
Baca juga: Prabowo Catat Hampir Rp2.000 Triliun Investasi Dalam Negeri



