Daerah

Prabowo Cairkan Rp200 Miliar untuk Korban Gempa Flores NTT

Rp200 Miliar bantuan Presiden cair ke NTT, 1.225 ton logistik masuk, dua rumah sakit kapal disiagakan untuk korban gempa Flores magnitudo 7,7.

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat koordinasi penanganan dampak gempa bumi di posko pengungsian Markas Batalyon Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere, Desa Tonggurambang, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/8/2026) (tangkapan layar video). Foto: ANTARA/YouTube/Sekretariat Presiden/Fathur Rochman

Dana bantuan Presiden sudah masuk rekening delapan kabupaten dan kas provinsi dua hari sebelum Prabowo mendarat di Nagekeo. Di tenda posko, rapat membahas sisa pekerjaan yang belum tuntas.

Rp200 Miliar sudah berpindah ke rekening kas daerah di Nusa Tenggara Timur pada Senin pagi, 24 Agustus 2026. Rinciannya Rp40 Miliar untuk kas Provinsi NTT dan Rp20 Miliar untuk masing-masing delapan kabupaten: Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Ngada, Nagekeo, Sikka, dan Flores Timur. Uang itu bagian dari bantuan kemasyarakatan Presiden yang dialirkan lewat tambahan belanja tidak terduga. “Sudah ditransfer semua pagi ini tambahan BTT dari Presiden oleh Mensesneg,” kata Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Dana itu menjawab persoalan yang sangat konkret. Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 dengan pusat di utara Kabupaten Nagekeo. Tujuh kabupaten terdampak, dari Manggarai Barat di ujung barat sampai Sikka di timur. Sampai 22 Agustus, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 53.971 rumah rusak, dengan 19.006 di antaranya rusak berat. Korban meninggal 87 orang dan pengungsi 150.576 jiwa pada tanggal yang sama. Bumi juga belum benar-benar diam. Sejak hari pertama tercatat 7.259 kali gempa, 143 di antaranya cukup kuat untuk dirasakan warga.

Presiden Prabowo Subianto baru mendarat di Nagekeo pada Rabu, 26 Agustus 2026, terbang dengan helikopter Super Puma dari Bali. Ia langsung memimpin rapat koordinasi di dalam tenda posko pengungsian di Markas Batalyon Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere, Desa Tonggurambang, Mbay. Presiden menjelaskan sendiri kenapa memilih datang belakangan. “Memang sengaja di awal-awal saya tidak mau datang, karena saya mau beri kesempatan semua instansi untuk melayani rakyat langsung,” katanya. Rombongan pejabat pusat yang datang terlalu dini, menurut dia, justru memecah konsentrasi petugas ke urusan protokol.

Yang bekerja lebih dulu memang bukan rombongan. Sampai 25 Agustus, 1.225 ton logistik sudah masuk NTT lewat dua pintu, 869 ton di Labuan Bajo dan 356 ton di Maumere, lalu diteruskan memakai mobil, sepeda motor, sampai dipanggul ke lokasi terpencil seperti Pulau Palue. Di sisi kesehatan, KRI dr. Soeharso-990 bersandar di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, dan RS Kapal Ksatria Airlangga berlabuh di Teluk Nangalirang, Manggarai Timur. Dua rumah sakit lapangan beroperasi di RSUD Ruteng dan RSUD Aeramo, dan di Ruteng saja sudah 29 operasi dikerjakan. Untuk rumah yang roboh, BNPB menyiapkan Rp15 Juta bagi rusak ringan, Rp30 Juta bagi rusak sedang, serta hunian sementara ditambah dana tunggu hunian Rp600 Ribu bagi rusak berat.

Sisanya masih pekerjaan rumah, dan itu diakui terbuka. Kepala BNPB Suharyanto menyebut bantuan belum menjangkau semua orang karena banyak warga mengungsi mandiri dan menolak pindah ke titik terpusat. “Para pengungsi mandiri yang tetap bertahan di tempat-tempat jauh tidak mau merapat ke titik pengungsian terpusat,” katanya. Jumlah pengungsi juga terus membengkak sampai sekitar 179 ribu jiwa menurut laporan kepada Presiden pada 26 Agustus, sebagian karena isu di media sosial soal gempa yang lebih besar dan tsunami. Angka 53.971 rumah rusak pun masih sementara. Plt. Kapusdatinkom BNPB Berton SP Panjaitan menegaskan data itu belum selesai diverifikasi, padahal verifikasi inilah yang menentukan siapa menerima Rp15 Juta dan siapa menerima huntara.

Rapat di tenda itu menghasilkan satu usulan yang jangkauannya melampaui Flores. Suharyanto meminta setiap BPBD kabupaten dan kota punya gudang logistik berisi stok siap pakai, dengan anggaran Rp5 Miliar sampai Rp10 Miliar per daerah. “Ketika terjadi bencana kemarin, daerah ini tidak bisa berbuat karena gudang-gudang logistik BPBD itu kosong,” ujarnya. Presiden menerimanya. “Saya kira itu saran yang baik. Nanti kita catat,” kata Prabowo.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan pemulihan akan dilanjutkan bertahap, dari rehabilitasi fasilitas terdampak sampai rekonstruksi infrastruktur dan penghidupan warga. Ukuran keberhasilannya akan terlihat bukan di tenda rapat, melainkan pada berapa cepat 19.006 keluarga yang rumahnya rusak berat bisa pulang ke atap sendiri.

Sumber & Rujukan