Pembangunan

Prabowo Siapkan Kapal Induk Pertama RI Jadi Markas Bencana Terapung

Kapal induk pertama RI disiapkan jadi markas bencana terapung: 10 helikopter, drone, logistik, dan komando. Dijadwalkan tiba pertengahan September.

Kapal induk Italia ITS Giuseppe Garibaldi (C 551), yang kini dihibahkan ke Indonesia dan akan dinamai KRI Gajah Mada, melintasi Samudra Atlantik bersama fregat Turki TCG Gediz (F 495) dalam latihan multinasional Majestic Eagle 2004 di lepas pantai Maroko, 12 Juli 2004. Foto: US Navy

Kapal induk pertama Indonesia sedang berlayar dari Italia dan dijadwalkan tiba pertengahan September 2026. Presiden Prabowo menyiapkannya sebagai pangkalan bergerak penanganan bencana, mulai dari helikopter pemadam sampai logistik dan komando di atas laut.

Presiden Prabowo Subianto menyiapkan kapal induk pertama Indonesia sebagai pangkalan bergerak untuk penanganan bencana. Keputusan itu ia sampaikan dalam Rapat Terbatas Perkembangan Penanganan Bencana Alam dari Istana Merdeka, Jakarta, lewat konferensi video pada Senin, 7 September 2026, ketika kapal itu masih berlayar pulang dari Italia.

Angkanya bisa dihitung sendiri. Kapal dirancang menampung 10 helikopter kelas menengah sejenis Black Hawk dan Mil Mi-17, dan tiap helikopter rata-rata sanggup mengangkut 4 sampai 5 ton air. Di luar helikopter, pemerintah menyiapkan drone berukuran besar yang mampu menjatuhkan 50 kilogram air sekali terbang, sehingga 10 drone setara 500 kilogram air.

Kebutuhannya nyata. Dalam rapat yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen Suharyanto melaporkan lahan gambut yang terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 72.009,10 hektare, dengan 71.069,65 hektare sudah dipadamkan dan 939,45 hektare masih ditangani per 7 September 2026. Di luar kebakaran, Indonesia rutin berhadapan dengan gempa, tsunami, erupsi gunung api, dan banjir yang kerap memutus jalan darat sekaligus melumpuhkan bandara terdekat.

Kapal induk biasanya diidentikkan dengan urusan tempur, dan yang ini diarahkan ke urusan lain. Presiden menjelaskan alasannya dari sisi jarak tempuh menuju titik api. “Jadi kalau kita punya 10 helikopter bisa segera merapat ke titik api yang terbanyak. Ini juga akan sangat membantu respons kita,” katanya. Ia meminta kesiapan disusun jauh sebelum musibah datang. “Jadi kita persiapan mengatasi mitigasi, jangan menunggu kejadian. Jauh sebelumnya harus kita siapkan,” ujarnya. Dalam rapat itu Presiden juga meminta pembahasan dengan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto soal penempatan helikopter angkut berat Chinook, serta menyinggung penambahan pesawat modifikasi cuaca.

Kemampuan bawaan kapalnya memang lebih dari satu. Menurut spesifikasi Marina Militare, Angkatan Laut Italia yang mengoperasikannya selama ini, Giuseppe Garibaldi sanggup mengangkut pesawat sekaligus menjalankan fungsi komando dan pengendalian kekuatan laut serta udara. Ukurannya menopang klaim itu: panjang 180,2 meter dengan dek penerbangan 173,8 meter dan lebar dek 30,4 meter, bobot sekitar 13.850 ton, kecepatan maksimum sekitar 30 knot, jangkauan sekitar 7.000 mil laut, kapasitas awak hingga sekitar 825 personel, dan daya angkut 18 sampai 20 pesawat. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali menyatakan kapal itu dapat dipakai mengoperasikan helikopter TNI Angkatan Laut, Angkatan Udara, maupun Angkatan Darat, dan TNI Angkatan Laut akan menyiapkan pelatihan bagi para pilot agar bisa mendarat di atasnya.

Pemerhati isu strategis Dr Safriady menilai kapal sebesar itu bisa bekerja sebagai pusat komando, transportasi, logistik, penerbangan, dan dukungan medis yang bergerak melalui laut, sejalan dengan Operasi Militer Selain Perang, khususnya bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Dalam tulisannya di ANTARA, 27 Agustus 2026, ia merinci helikopter yang mengangkut tenaga medis dan tim SAR, drone yang melakukan pemetaan awal, serta distribusi pangan, air, obat-obatan, dan perlengkapan darurat ke wilayah yang aksesnya terputus.

Yang masih jadi PR, seluruh fungsi berlapis itu belum menjadi program resmi. Rencana konversi yang sudah dinyatakan Presiden baru mencakup helikopter dan drone; fungsi komando adalah kemampuan bawaan kapal dari pembuatnya, sedangkan pusat logistik dan dukungan medis masih berupa penilaian Safriady di ANTARA. Kapal rumah sakit TNI Angkatan Laut yang sudah bertugas tetap KRI dr. Soeharso-990, yang tahun ini disandarkan di Pelabuhan Reo, Manggarai, untuk korban gempa Flores. Biaya restorasi, jadwal pengerjaan, dan jumlah helikopter yang benar-benar tersedia untuk ditempatkan di atas kapal juga belum diumumkan pemerintah.

Tolok ukur paling awal jatuh pada 25 September 2026, saat bendera Merah Putih dijadwalkan naik dan nama KRI Gajah Mada resmi dipakai. Setelah itu publik bisa mengecek apakah pangkalan di Lampung benar rampung pada akhir September, berapa lama restorasi menjadi kapal induk helikopter dan drone berlangsung, dan apakah pelatihan pendaratan pilot lintas matra yang dijanjikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut benar berjalan. Sisa 939,45 hektare lahan gambut yang masih ditangani per 7 September 2026 menjadi pembanding paling dekat untuk mengukur seberapa cepat bantuan dari laut itu terasa.

Sumber & Rujukan