Sepanjang Juli 2026, pelajar Indonesia membawa pulang 17 medali dari empat olimpiade sains internasional. Dua emasnya datang dari satu sekolah yang sama di Gading Serpong.
Jonathan Ezekiel pulang dari Vilnius dengan medali emas Olimpiade Biologi Internasional. Sepekan sebelumnya, di Bucaramanga, Kolombia, Evan Syatia To sudah lebih dulu mengalungkan emas Olimpiade Fisika Internasional. Keduanya bersekolah di tempat yang sama: SMA BPK Penabur di Gading Serpong, Banten. Satu sekolah, dua emas olimpiade sains dunia, dalam satu bulan yang sama.
Jonathan dan Evan cuma dua dari 17 pelajar Indonesia yang membawa pulang medali sepanjang Juli 2026. Di Vilnius, Lithuania, tim biologi menyapu 1 emas, 2 perak, dan 1 perunggu dari ajang yang diikuti 78 negara. Derickson Lie dari SMAS Mondial Batam dan Talita Alya Nabilah dari MAN 2 Kota Malang menyumbang perak, sementara Sabrina Yeira Arisandra dari SMA Negeri 3 Malang meraih perunggu.
Di Kolombia, tim fisika bersaing dengan 381 peserta dari 93 negara dan pulang dengan lima medali: emas Evan, perak Ackhava Adam Malonda (SMA Wardaya, Jakarta) dan Gusti Komang Abhika Atmaja (SMA Kesatuan Bangsa, Yogyakarta), serta perunggu Arrow Dunatos Pascha Kristian (SMA Negeri Unggulan MH Thamrin, Jakarta) dan Juan Richie (SMAS Kristen Immanuel, Pontianak). Tahun sebelumnya tim fisika hanya membawa tiga perunggu tanpa emas.
Dua ajang lain menambah panen. Di Tashkent, Uzbekistan, tim kimia meraih tiga perak lewat Renault Tjandera, Muhammad Arya Razan, dan Aloysius Gonzaga Duta Setyawan, plus perunggu Ahmad Kautsar Al Ramadhani dari MAN 2 Kota Malang. Indonesia duduk di peringkat 28 dunia. Di Shanghai, dari 685 peserta 119 negara, tim matematika membawa empat perunggu: Jayden Jurianto, Steven Abiel Cahyono, Danica Odelia, dan Yusril Ihsan Adinatanegara dari SMA Negeri 1 Glagah, Banyuwangi.
Medali seperti ini tidak datang dari bakat semata. Jalurnya panjang dan berjenjang, dimulai dari Olimpiade Sains Nasional di tingkat kabupaten/kota, naik ke provinsi, lalu nasional, sebelum yang tersaring masuk pemusatan pelatihan nasional yang dikelola Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen. Tim biologi menjalani tiga tahap pelatnas sebelum terbang ke Lithuania. Tim fisika didampingi Budhy Kurniawan dari FMIPA Universitas Indonesia dan Getbogi Hikmawan dari ITB, sementara pembinaan matematika dikoordinasi Aleams Barra dari ITB.
“Pembinaan menjadi kunci utama. Semakin panjang waktu pelatihan, terutama untuk praktikum, semakin besar peluang siswa meraih hasil terbaik,” kata Agus Dana Permana, Team Leader tim IBO Indonesia, dalam siaran pers Kemendikdasmen.
Kepala Puspresnas Maria Veronica Irene Herdjiono mencatat bahwa emas biologi Jonathan adalah emas kedua Indonesia di olimpiade sains internasional tahun ini, setelah emas fisika. Pada 2026, kementerian mengirim 79 talenta muda ke 14 ajang internasional.
Minat terhadap sains di akarnya juga naik. OSN tingkat kabupaten/kota tahun ini diikuti 418.918 murid SD dan 297.955 murid SMP, total 716.873 anak. Angka SD melonjak 21 persen dibanding tahun lalu.
Yang masih jadi PR
Prestasi 17 anak ini berdiri di atas realitas yang jauh lebih berat. Pada PISA 2022, gelombang terbaru yang hasilnya sudah dirilis OECD, skor matematika Indonesia 366 melawan rata-rata OECD 472. Membaca 359 berbanding 476, sains 383 berbanding 485. Yang paling menohok: 81,7 persen murid Indonesia berusia 15 tahun berada di bawah Level 2 matematika, ambang kompetensi minimum. Artinya empat dari lima anak belum sanggup mengerjakan soal matematika dasar untuk kehidupan sehari-hari.
Sebaran asal sekolah peraih medali juga bicara. Dari 17 nama itu, lima berasal dari Banten, lima dari Jawa Timur, tiga dari Jakarta, dua dari Yogyakarta, satu dari Batam, satu dari Pontianak. Tidak ada satu pun dari Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, atau Papua. Kalau pipa pembinaan hanya mengalir deras di beberapa kantong kota besar, kolam bakat nasional tetap dangkal.
Catatan Agus Dana Permana soal durasi pelatihan praktikum juga layak dibaca sebagai sinyal, bukan basa-basi terima kasih. Laboratorium yang layak dan waktu pembinaan yang cukup masih jadi variabel yang membedakan emas dari perunggu.
Jonathan, Evan, dan 15 kawannya sudah membuktikan langitnya bisa dijangkau. Pertanyaannya sekarang berapa banyak anak lain yang bahkan belum diberi tangga untuk mulai memanjat.
Sumber & Rujukan
- Siaran pers Kemendikdasmen: Talenta Muda Indonesia Persembahkan Emas di International Biology Olympiad 2026
- Siaran pers Kemendikdasmen: Kepulangan Lima Murid Peraih Medali IPhO 2026 Disambut Hangat Kemendikdasmen
- Siaran pers Kemendikdasmen: Murid Indonesia Raih Empat Medali Perunggu pada International Mathematical Olympiad 2026 di Tiongkok
- Siaran pers Kemendikdasmen: Kemendikdasmen Kirim 79 Talenta Muda Indonesia Bersaing di 14 Ajang Internasional
- BPMP Banten Kemendikdasmen: Talenta Muda Indonesia Raih Empat Medali di IChO 2026
- ANTARA News: Indonesia raih lima medali pada Olimpiade Fisika Internasional
- Detik Edu: Hebat! Siswa RI Borong 5 Medali di Olimpiade Fisika Dunia 2026
- Detik Edu: Keren! Siswa RI Borong 4 Medali Perunggu di Olimpiade Matematika Dunia 2026
- Detik Edu: Total Peserta OSN-K SD-SMP 2026 Capai 716 Ribu, Naik hingga 21 Persen
- OECD Education GPS: Indonesia, Student Performance (PISA 2022)
- Samudrafakta: Sisihkan 77 Negara, Siswa SMA Indonesia Raih Emas di International Biology Olympiad 2026
- RRI: Kemendikdasmen Komitmen Bina Prestasi Siswa dalam Ajang Internasional

