Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus dagang Indonesia sebesar 7,25 miliar dolar AS pada periode Januari-Agustus 2026. Angka itu disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Surplus dagang tersebut datang dari selisih ekspor kumulatif 193,64 miliar dolar AS, yang naik 4,74 persen secara tahunan, dan impor 186,39 miliar dolar AS. Dari ekspor itu, industri pengolahan menyumbang 159,55 miliar dolar AS, pertambangan dan lainnya 22,39 miliar dolar AS, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan 3,09 miliar dolar AS.
Surplus Dagang Ditopang Ekspor Nonmigas
Ekspor nonmigas pada periode yang sama mencapai 185,63 miliar dolar AS, naik 5,48 persen. Menurut Ateng, perdagangan nonmigas menjadi penopang utama. “Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD21,29 miliar,” jelas Ateng dalam konferensi pers BPS di Jakarta.
Pada Agustus 2026 saja, neraca dagang surplus 3,55 miliar dolar AS. Ekspor bulan itu 26,61 miliar dolar AS, naik 6,72 persen dibanding Agustus 2025, sedangkan impor 23,06 miliar dolar AS, naik 19,09 persen. Surplus nonmigas Agustus tercatat 6,09 miliar dolar AS, dengan penyumbang utama lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Impor Bahan Baku dan Catatan Pembanding
Dari sisi impor, bahan baku dan penolong mendominasi dengan nilai 133,38 miliar dolar AS pada Januari-Agustus 2026. Impor kumulatif secara keseluruhan naik 19,84 persen secara tahunan, lebih cepat daripada kenaikan ekspor 4,74 persen. Angka itu bisa dibaca sebagai bahan baku untuk industri pengolahan yang menjadi sumber terbesar ekspor, tetapi BPS dalam kutipan yang tersedia tidak menjelaskan hubungan itu secara rinci.
Konteks lain datang dari detikFinance pada 2 Oktober 2026. Media itu mencatat neraca dagang sempat defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, yang mengakhiri 72 bulan surplus berturut-turut sejak Mei 2020. Dengan kata lain, surplus dagang kumulatif Januari-Agustus terbentuk setelah satu bulan defisit, bukan dari surplus tanpa putus.
Yang masih jadi PR tampak dari data BPS sendiri. Perdagangan migas masih defisit 21,29 miliar dolar AS pada Januari-Agustus, dan pada Agustus defisit migas tercatat 2,54 miliar dolar AS, dengan penyumbang utama hasil minyak dan minyak mentah. Pertumbuhan impor yang lebih cepat daripada ekspor juga berarti surplus dagang harus terus dijaga lewat kenaikan ekspor nonmigas.
Dari sisi bulanan, ekspor nonmigas Agustus 2026 naik 7,23 persen menjadi 25,62 miliar dolar AS, menurut data BPS yang dikutip Investor.id. Kenaikan itu lebih tinggi daripada kenaikan ekspor total Agustus sebesar 6,72 persen, sehingga ekspor nonmigas menjadi penarik ekspor bulan tersebut. Impor Agustus naik 19,09 persen, mendekati laju kenaikan impor kumulatif 19,84 persen. Dua angka itu menunjukkan surplus dagang sepanjang 2026 tetap bergantung pada ekspor nonmigas yang terus tumbuh.
Ukuran berikutnya mudah dicek di rilis BPS bulan depan: apakah surplus dagang kumulatif 7,25 miliar dolar AS bertahan setelah data September terbit, dan apakah ekspor industri pengolahan yang kini 159,55 miliar dolar AS tetap tumbuh. Angka bulanan Agustus, yaitu surplus 3,55 miliar dolar AS, menjadi pembanding langsung untuk surplus dagang bulan berikutnya.
Sumber & Rujukan
- BPS catat Neraca Dagang RI hingga Agustus surplus 7,25 miliar dolar AS, ANTARA News Sulteng, 1 Oktober 2026
- Neraca Dagang RI hingga Agustus surplus 7,25 miliar USD, ANTARA News Jateng, 1 Oktober 2026
- 6 Fakta Neraca Perdagangan Surplus tapi Impor hingga Agustus Terus Meroket, Okezone Economy, 4 Oktober 2026
- BPS Catat Neraca Perdagangan RI Surplus US$ 7,25 Miliar hingga Agustus 2026, Beritasatu.com
- Neraca Dagang RI Balik Surplus Lagi, detikFinance, 2 Oktober 2026
- Neraca Perdagangan Surplus US$ 3,55 Miliar pada Agustus 2026, Investor.id, 1 Oktober 2026



