Belanja negara melompat hampir 16 persen dan menopang pertumbuhan triwulan II 2026 di angka 5,29 persen. Semester pertama ditutup di 5,45 persen, meski impor melaju dua kali lebih cepat daripada ekspor.
Belanja negara untuk program Makan Bergizi Gratis menembus Rp98,8 triliun sepanjang semester pertama 2026. Setahun sebelumnya, pada triwulan yang sama, angkanya masih Rp2,9 triliun. Uang sebesar itu mengalir ke dapur satuan pelayanan, pemasok beras dan telur, sampai tenaga pengantar di ribuan titik. Badan Pusat Statistik menemukan jejaknya di neraca nasional.
Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, laju tercepat di antara seluruh komponen pengeluaran. Total ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan 3,73 persen dibanding triwulan sebelumnya. Sepanjang semester pertama, pertumbuhannya 5,45 persen. Nilai produk domestik bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, dan atas dasar harga konstan Rp3.576,2 triliun, naik dari Rp3.396,6 triliun setahun lalu. Data ini diumumkan lewat Berita Resmi Statistik No. 78/08/Th. XXIX pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Angka itu datang setelah triwulan I yang luar biasa. Tiga bulan pertama 2026 ditutup di 5,61 persen, laju tertinggi dalam beberapa tahun. Triwulan II turun 0,32 poin persentase dari sana. Sebagai pembanding, sepanjang 2024 dan 2025 ekonomi Indonesia bergerak di rentang 4,87 sampai 5,39 persen. Jadi 5,29 persen tetap berada di atas rata-rata dua tahun terakhir, hanya saja tidak lagi memecahkan rekor.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menjelaskan lonjakan belanja pemerintah datang dari beberapa pos sekaligus: realisasi gaji ke-13 untuk ASN, TNI, dan Polri, percepatan tunjangan tenaga pendidik non-PNS, penambahan jumlah ASN, serta belanja barang dan jasa untuk MBG. Ia juga mengingatkan ada efek basis rendah, karena konsumsi pemerintah pada triwulan II 2025 justru terkontraksi 0,33 persen.
Sektor yang bergerak paling kencang adalah konstruksi dengan 6,68 persen, disusul perdagangan dan reparasi 6,39 persen. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengaitkan percepatan konstruksi dengan program tiga juta rumah, termasuk kenaikan alokasi pembiayaan perumahan dari Rp37,5 triliun menjadi Rp50 triliun. Industri pengolahan tumbuh 4,52 persen dan pertanian 3,80 persen. Secara kewilayahan, Jawa menyumbang 56,47 persen PDB dan tumbuh 5,65 persen, sementara laju tertinggi justru dicatat Bali dan Nusa Tenggara dengan 6,10 persen. Airlangga menyebut capaian semester I sebesar 5,45 persen sebagai “salah satu capaian tertinggi di ASEAN”.
Yang masih jadi PR. Struktur pertumbuhannya belum sehat. Impor tumbuh 8,82 persen, lebih dari dua kali laju ekspor yang cuma 4,13 persen. Direktur Pengembangan Big Data INDEF Eko Listiyanto menghitung kontribusi net ekspor merosot ke minus 0,78, dari minus 0,02 pada triwulan II 2025, yang menurutnya menandakan Indonesia kehilangan daya saing di pasar global. Konsumsi rumah tangga sendiri melemah, dari 5,52 persen pada triwulan I menjadi 5,06 persen. “Daya beli murni masyarakat itu sedang tertekan,” katanya, dan yang menambal selisihnya adalah stimulus fiskal.
Ada anomali lain yang ia soroti. Sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen, tetapi penyerapan tenaga kerjanya justru turun 128 ribu orang pada Februari sampai Mei 2026. Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda menambahkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen menurun sejak awal tahun, dan menduga kenaikan konsumsi lebih ditopang kelompok berpendapatan tinggi sehingga jurang pengeluaran melebar.
Pertambangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang menyusut, terkontraksi 1,64 persen. Edy Mahmud merinci penyebabnya: pertambangan bijih logam anjlok 9,42 persen karena produksi bauksit, timah, dan nikel turun, operasi Freeport belum pulih setelah longsor Grasberg pada September 2025, dan penambangan batu bara serta lignit turun 1,41 persen menyusul penataan RKAB 2026.
Ketimpangan antarwilayah juga belum bergeser. Maluku dan Papua hanya tumbuh 1,36 persen dengan porsi 2,76 persen dari PDB nasional, dan Kalimantan 4,10 persen. Enam dari sepuluh rupiah nilai tambah nasional masih diciptakan di Jawa. Pertanyaannya sederhana: MBG dan gaji ke-13 tidak bisa diulang dengan lompatan sebesar ini setiap tahun, jadi dari mana dorongan 5 persen berikutnya akan datang ketika efek basis rendah habis?
Sumber & Rujukan
- Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen (y-on-y) (Berita Resmi Statistik BPS, 5 Agustus 2026)
- BPS: Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 (ANTARA, 5 Agustus 2026)
- BPS: Konsumsi pemerintah pimpin pertumbuhan komponen pengeluaran TW-II (ANTARA, 5 Agustus 2026)
- Ekonomi triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen (Infografik ANTARA)
- Pertambangan Masih Terkontraksi, Gangguan Produksi Freeport dan RKAB jadi Pemicu (Bisnis Indonesia, 5 Agustus 2026)
- Menko Airlangga Tepis Rapuhnya Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 (Okezone, 5 Agustus 2026)
- Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi Semester I 2026 Capai 5,45 Persen, Salah Satu Tertinggi di ASEAN (Republika)
- Catatan Kritis Ekonom Soal Capaian Ekonomi RI 5,29% di Kuartal II-2026 (CNBC Indonesia, 7 Agustus 2026)
- Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, CELIOS Soroti Kejanggalan Data Konsumsi dan Industri (Republika, 5 Agustus 2026)
- Indef: Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen Masih Solid, tetapi Tantangan Pengangguran Besar (Republika)
- Konsumsi Pemerintah Tumbuh 15,97 Persen, Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 (Republika)



