Cadangan beras pemerintah menembus angka tertinggi sepanjang sejarah Perum Bulog dan pemerintah menutup keran impor beras konsumsi sepanjang 2026. Tantangan berikutnya pindah ke gudang dan ke harga di pasar.
Pada Minggu, 2 Agustus 2026, Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani berkeliling Gudang Bulog Kordon di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Ia memeriksa kebersihan gudang, sistem perputaran stok, dan mutu beras yang tersimpan, lalu meminta mitra penggilingan padi menjaga standar pengolahan. Angka yang ia bawa dari Jakarta: sekitar 5,4 juta ton cadangan beras pemerintah, tertinggi sepanjang sejarah lembaga yang tahun ini berulang tahun ke-59 itu.
Rekor tersebut tidak datang sekaligus. Pada Kamis pagi, 23 April 2026, Bulog mengumumkan stok di gudangnya menembus 5.000.198 ton, pertama kali melewati batas 5 juta ton. Tiga pekan kemudian, 13 Mei, Rizal menyebut angka 5,329 juta ton. “Stok CBP di Bulog sampai hari ini mencapai 5,329 juta ton dan menjadi puncak tertinggi sepanjang sejarah Bulog,” katanya seperti dikutip ANTARA. Puncaknya tercatat 5,39 juta ton pada 22 Mei.
Dua tahun lalu ceritanya berbeda jauh. BPS mencatat Indonesia mengimpor 3,06 juta ton beras pada 2023, tertinggi dalam lima tahun, lalu 4,52 juta ton pada 2024. Stok beras nasional di awal tahun pun tipis. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyebut stok awal 2024 hanya 4,134 juta ton, naik jadi 8,402 juta ton pada awal 2025, lalu 12,529 juta ton pada awal 2026. Kenaikannya 203 persen dalam dua tahun.
Mesin di balik lonjakan itu adalah harga pembelian pemerintah. Lewat Inpres No. 4 Tahun 2026 yang diumumkan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman pada 8 April, HPP gabah kering panen dipertahankan Rp6.500 per kilogram untuk semua kualitas yang sudah masuk usia panen. Bulog diberi target menyerap 4 juta ton setara beras sepanjang tahun. Target itu dikejar dengan cepat: 3.008.626 ton sudah masuk per 3 Juni, dan 3,26 juta ton atau 81,65 persen dari target per 2 Juli.
Keputusan menyetop impor diambil lebih awal. Dalam penetapan Neraca Komoditas 2026 pada 30 Desember 2025, Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kemenko Pangan Tatang Yuliono menyatakan tidak ada impor beras dan gula konsumsi maupun jagung pakan tahun ini. Amran menegaskannya kembali pada 24 April: “Insyaallah 2026 tidak impor beras.”
Stok itu mengalir ke masyarakat lewat dua jalur. Sampai 2 Juli, program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) menyalurkan 408 ribu ton beras, sementara bantuan pangan mencapai 662.886 ton untuk 33,14 juta penerima. Putaran berikutnya, bantuan 30 kilogram per keluarga, mulai disebar pada 17 Agustus 2026.
Yang masih jadi PR. Ruang gudang menipis. Pada 22 Mei, Rizal mengakui kapasitas gudang milik Bulog hanya sekitar 4 juta ton sehingga perusahaan menyewa tambahan sekitar 2 juta ton. Per 2 Juli, kapasitas total 6,36 juta ton dengan sisa ruang tinggal 1,18 juta ton. Bulog menyiapkan pembangunan 100 gudang senilai sekitar Rp5 triliun sepanjang 2026. Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Dwi Andreas Santosa sejak Januari mengingatkan risiko beras rusak dan harus dibuang bila kapasitas simpan tak mengejar. Pengamat pertanian Khudori menyebut beras idealnya disimpan maksimal empat bulan sebelum mutunya turun.
Masalah kedua ada di harga. BPS mencatat rata-rata beras medium Juni 2026 di angka Rp14.402 per kilogram dan premium Rp16.230, keduanya di atas HET Rp13.500 dan Rp14.900. Nilai tukar petani Juni tercatat 127,65, turun tipis dibanding bulan sebelumnya. Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PKS, Slamet, menyoroti kesenjangan itu pada 17 Juli. “Indonesia memang berhasil memperkuat cadangan beras nasional, tetapi persoalan pangan tidak berhenti pada produksi dan stok,” ujarnya.
BPS memproyeksikan produksi beras Januari sampai Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton, hanya naik 0,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Artinya, tambahan stok tahun depan tidak akan sederas tahun ini, dan sisa target serapan sekitar 740 ribu ton harus dikejar di musim yang lebih kering. Pertanyaan yang belum terjawab: seberapa cepat 5,4 juta ton itu bisa turun ke pasar sebelum mutunya berkurang.
Sumber & Rujukan
- BULOG Cetak Rekor Sepanjang Sejarah, Stok Beras Tembus 5 Juta Ton (Perum Bulog, 23 April 2026)
- Mantap! Stok Beras Tembus 5 Juta Ton, BULOG Cetak Rekor Sepanjang Sejarah (JPNN, kutipan rilis Bulog)
- Dirut Bulog: Stok beras 5,3 juta ton berkat peran lintas sektor (ANTARA, 13 Mei 2026)
- Bulog catat stok beras 5,36 juta ton, kapasitas simpan 6,2 juta ton (ANTARA)
- Perum Bulog miliki stok beras 5,18 juta ton per 2 Juli (ANTARA Jatim)
- BULOG Tembus 3 Juta Ton Serapan Gabah-Beras Petani (Perum Bulog, 3 Juni 2026)
- Rekor Baru Bulog, Serapan Gabah-Beras Petani Capai 3 Juta Ton (CNN Indonesia, 3 Juni 2026)
- Pemerintah tetapkan HPP gabah petani bertahan Rp6.500 per kilogram (ANTARA, 8 April 2026)
- Ketok Neraca Komoditas 2026, Pemerintah Pastikan Tak Ada Impor Beras dan Gula untuk Konsumsi serta Jagung Pakan (Badan Pangan Nasional)
- Bapanas: RI swasembada beras, stok awal 2026 capai 12,529 juta ton (ANTARA, 3 Januari 2026)
- BPS proyeksikan produksi beras RI 25,28 juta ton hingga Agustus 2026 (ANTARA, 1 Juli 2026)
- Stok Beras Bulog Tembus 5,3 Juta Ton, Siap Bangun 100 Gudang Rp5 Triliun (Bisnis.com, 11 Mei 2026)
- Gudang Bulog Nyaris Penuh, Sewa Tambahan Disiapkan untuk Tampung 7 Juta Ton Beras (Bisnis.com, 22 Mei 2026)
- Anomali Beras RI: Stok Rekor, Harga di Konsumen Tetap Menanjak (Bisnis.com, 26 Juni 2026)
- Stok Beras Mencapai 5,4 Juta Ton, Dirut Bulog Minta Pengusaha Penggilingan Jaga Kualitas (Tribun Jabar, 2 Agustus 2026)
- Pakar Soroti Risiko Disposal Akibat Stok Beras Menumpuk, Negara Bisa Rugi Triliunan (JPNN, 20 Januari 2026)
- Pengamat Nilai Stok Jumbo Beras Bulog Bisa Jadi Bom Waktu (Kompas TV, 10 November 2025)
- Harga Beras Naik dan NTP Turun, PKS Desak Reformasi Tata Niaga Perberasan (Monitor Indonesia, 17 Juli 2026)
- BPS: Impor Beras 2023 Capai 3,06 Juta Ton, Tertinggi selama 5 Tahun (Liputan6)
- Impor Beras RI Sepanjang 2024 Tembus 4,52 Juta Ton (CNBC Indonesia)



