Kesehatan

BGN Siapkan Aplikasi, Orang Tua Bisa Pantau Langsung Menu MBG

BGN siapkan aplikasi transparansi MBG, orang tua bisa pantau menu, gizi, dapur, dan Kepala SPPG mulai pekan depan.

Kepala BGN Sudaryono saat meninjau menu MBG di salah satu sekolah penerima manfaat, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/7/2026). (Foto: BGN)

Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menjanjikan aplikasi pemantauan menu Makan Bergizi Gratis bisa diakses orang tua siswa mulai pekan depan, lengkap dengan data dapur penyedia dan kandungan gizi.

Orang tua siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan bisa memantau langsung menu makan anaknya lewat aplikasi digital. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menargetkan layanan itu bisa diakses seluruh orang tua siswa mulai pekan depan.

Lewat sistem tersebut, orang tua bisa melihat sekolah penerima MBG, menu harian yang disajikan, dapur penyedia makanan, sampai identitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab atas dapur itu. Kandungan gizi setiap menu juga akan ditampilkan.

“Kami telah juga membangun sebuah transparansi, sebuah cara, dan kami akan umumkan di momen berikutnya, bagaimana publik bisa ikut terlibat mengawasi menu MBG ini,” kata Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (27/7/2026), seperti dilaporkan Garuda TV.

Janji ini datang di tengah sorotan terhadap tata kelola Program MBG. Sudaryono baru dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala BGN pada 23 Juli 2026, dan sejak awal menegaskan agenda “bersih-bersih” lembaga itu. Beberapa hari sebelum pengumuman aplikasi ini, BGN memecat 261 pegawai dan menutup permanen ratusan dapur MBG yang terbukti melanggar standar higienitas maupun sanitasi.

Akses aplikasi tidak dibatasi untuk orang tua saja. Guru, kepala sekolah, pemerintah daerah, dan dinas terkait juga bisa memakainya untuk mengecek data dapur, mulai dari lokasi hingga jumlah penerima manfaat di tiap wilayah. BGN turut berencana memperbarui situs resminya agar publik bisa mengecek jumlah dapur MBG per kecamatan dan kabupaten tanpa perlu bertanya manual ke petugas.

Program MBG sendiri sudah berjalan sejak Januari 2025 dan terus meluas cakupannya. Data BGN menyebut program ini menjangkau hampir 60 juta penerima manfaat pada awal 2026, dengan target naik ke 82,9 juta penerima dan 32.000 SPPG pada April 2026. Per akhir Mei 2026, tercatat 27.208 unit dapur aktif beroperasi, meski BGN sempat membekukan 8.182 di antaranya karena tak memenuhi kualifikasi, dan baru 5.659 unit yang kembali aktif.

Soal potensi penyimpangan, Sudaryono menegaskan sikap tegas. Ia melarang Kepala SPPG meminta komisi, biaya tambahan, atau fee dari mitra maupun yayasan penyedia bahan pangan. Gratifikasi, mark up harga, kickback, dan penyalahgunaan wewenang ia sebut sebagai pelanggaran serius yang berujung pemecatan dan penutupan dapur.

“Barang siapa melakukan pelanggaran itu, kalau terbukti kami pecat. Dan dapurnya kami suspend atau kami tutup,” tegasnya.

Yang masih jadi pekerjaan rumah, aplikasi ini sendiri belum resmi diluncurkan saat berita ini ditulis, dan BGN belum merinci nama platform, cara unduh, atau mekanisme verifikasi data yang ditampilkan. Sudaryono juga mengakui tata kelola MBG masih punya sejumlah kekurangan, meski ia menyebut sebagian besar dapur sudah bekerja sesuai aturan.

Bila janji pekan depan itu terealisasi, orang tua siswa penerima MBG di seluruh Indonesia akan punya alat baru untuk memastikan makanan yang sampai ke piring anaknya benar sesuai standar gizi dan diolah di dapur yang bersih.

Sumber & Rujukan: