Kesehatan

71 Juta Anak Dijamin JKN, Rp25 Triliun Terpakai Setahun

BPJS Kesehatan: lebih dari 71 juta anak usia 0-17 tahun terlindungi JKN per Juni 2026, dengan biaya layanan Rp25,32 triliun sepanjang 2025.

Pelayanan kepada masyarakat di Kantor BPJS Kesehatan Jambi, Senin (20/1/2025). Foto: ANTARA/Tuyani

Lebih dari 71 juta anak terdaftar sebagai peserta JKN per Juni 2026. Sepanjang 2025, biaya layanan untuk kelompok usia ini menembus Rp25,32 triliun.

Yang paling menakutkan bagi orang tua saat anaknya demam tinggi tengah malam bukan cuma penyakitnya. Sering kali yang bikin panik adalah hitungan di kepala: biaya IGD, biaya rawat inap, uang yang belum ada.

Untuk sebagian besar keluarga Indonesia, kekhawatiran itu sekarang punya penahan. BPJS Kesehatan menyatakan lebih dari 71 juta anak usia 0 sampai 17 tahun sudah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional per Juni 2026. Mereka bisa mengakses layanan mulai dari puskesmas dan klinik sampai rumah sakit rujukan, sesuai indikasi medis.

“Melalui Program JKN, anak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan mulai dari FKTP hingga rumah sakit sesuai indikasi medis. Perlindungan tersebut memberikan rasa aman bagi orang tua karena anak dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa terkendala biaya,” kata Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, dalam keterangannya pada Jumat 24 Juli 2026.

Angka yang jarang dilihat orang

Perlindungan itu ada harganya, dan BPJS Kesehatan membuka angkanya. Sepanjang 2025, lembaga tersebut membiayai layanan kesehatan peserta usia 0 sampai 17 tahun sebesar Rp25,32 triliun.

Rinciannya menarik untuk dibaca pelan-pelan. Sebanyak Rp588,93 miliar terpakai di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, tempat puskesmas dan klinik pratama berada. Sisanya, Rp24,73 triliun, terserap di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan alias rumah sakit.

Artinya, dari setiap seratus rupiah yang dikeluarkan untuk kesehatan anak, sekitar 98 rupiah habis di rumah sakit. Hanya sekitar dua rupiah yang berputar di layanan terdepan.

Penyakitnya justru sederhana

Yang membuat perbandingan itu terasa janggal adalah jenis penyakitnya. Menurut BPJS Kesehatan, gangguan kesehatan anak masih didominasi penyakit infeksi. Di layanan primer, kunjungan terbanyak untuk kasus flu, disusul infeksi saluran pernapasan akut, keduanya tercatat di kisaran 7,3 juta kunjungan sepanjang 2025.

Setelah itu berturut-turut ada demam, gangguan pertumbuhan gigi, diare, radang tenggorokan, batuk, dan gangguan pencernaan.

Ini penyakit yang sebagian besar bisa tuntas di puskesmas, bahkan bisa dicegah di rumah. Diare berkaitan erat dengan air bersih dan cuci tangan. ISPA berkaitan dengan kualitas udara dan asap rokok di dalam rumah. Gangguan pertumbuhan gigi berkaitan dengan kebiasaan menyikat gigi yang dimulai sejak balita.

Yang masih jadi pekerjaan rumah

Angka Rp24,73 triliun di rumah sakit menunjukkan banyak masalah anak baru tertangani setelah membesar. Menggeser sebagian beban itu ke layanan primer akan menghemat uang publik sekaligus menghemat hari-hari sekolah yang hilang karena anak dirawat.

Pekerjaan itu jatuh ke banyak pihak sekaligus, bukan hanya BPJS Kesehatan. Puskesmas perlu jam buka dan tenaga yang memadai, posyandu perlu kader aktif, dan orang tua perlu tahu bahwa demam anak tidak selalu harus dibawa ke IGD.

Bagi keluarga yang anaknya belum terdaftar, pendaftaran bisa diurus lewat aplikasi Mobile JKN, kanal layanan BPJS Kesehatan, atau kantor cabang setempat. Bayi baru lahir dari orang tua peserta JKN juga bisa didaftarkan sejak hari pertama, dan itu langkah yang paling sering terlewat.

Sumber & Rujukan