Biasanya target bauran energi terbarukan baru terlihat hasilnya di penghujung tahun. Kali ini, angkanya sudah terlampaui saat 2026 belum genap berjalan empat bulan.
Biasanya target energi terbarukan Indonesia baru kelihatan hasilnya menjelang akhir tahun, sering kali meleset dan harus disesuaikan ulang. Tahun ini pola itu berubah. Hingga April 2026, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran pembangkit listrik nasional sudah mencapai 17,89 persen, setara produksi listrik 29,62 terawatt hour (TWh). Angka ini melampaui target pemerintah untuk sepanjang 2026, yakni 16,46 persen, padahal delapan bulan masih tersisa.
Perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya memperlihatkan seberapa jauh lompatan ini. Pada 2024, bauran EBT nasional masih di level 14,65 persen. Setahun berikutnya naik menjadi 15,75 persen, kenaikan sekitar satu poin persentase dalam setahun penuh. Sebaliknya, dalam empat bulan pertama 2026 saja, kontribusi energi terbarukan sudah bertambah lebih dari dua poin persentase. Laju pertumbuhannya berubah dari perlahan menjadi jauh lebih cepat.
Selama bertahun-tahun, transisi energi Indonesia kerap terganjal proyek yang lama mangkrak di tahap perencanaan atau konstruksi. Rencana besar sering tidak sejalan dengan realisasi di lapangan. Kali ini sejumlah pembangkit listrik tenaga air yang masuk proyek strategis ketenagalistrikan nasional mulai beroperasi penuh, bersamaan dengan program pengurangan ketergantungan pada pembangkit diesel yang berjalan lebih cepat dari beberapa tahun sebelumnya.
Arah kebijakan turut berubah. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, sekitar 76 persen dari seluruh tambahan kapasitas pembangkit yang direncanakan selama satu dekade ke depan berasal dari sumber energi terbarukan. Energi bersih tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sumber utama pertumbuhan kapasitas baru sistem kelistrikan nasional.
Buktinya sudah mulai terlihat di lapangan, bukan cuma di atas kertas. Dalam satu tahun sejak RUPTL diterbitkan, hampir separuh dari porsi pengembangan EBT yang direncanakan sudah memasuki tahap eksekusi. Sumatera jadi contoh paling menonjol, dengan bauran energi terbarukan yang sudah mencapai 41,76 persen dari total produksi listrik di pulau itu, ditopang kombinasi panas bumi, tenaga air, dan biomassa yang selama ini jadi keunggulan wilayah tersebut. Secara nasional, tenaga air masih jadi tulang punggung EBT, disusul biomassa dan panas bumi.
Yang masih jadi pekerjaan rumah adalah menjaga momentum ini sampai akhir tahun, sekaligus memastikan wilayah lain di luar Sumatera bisa mengejar ketertinggalan. Sebagian besar potensi EBT Indonesia, terutama energi surya dan angin, masih jauh dari termanfaatkan secara maksimal di banyak provinsi.
Kalau laju kenaikan sekitar dua poin persentase dalam empat bulan bisa dijaga, Indonesia berpeluang mencatat salah satu tahun paling signifikan dalam sejarah transisi energinya, jauh lebih cepat dari yang direncanakan semula.
Sumber & Rujukan:
- Energi bersih RI mulai bergerak lebih cepat, ANTARA News, 20 Juni 2026.
