Ekonomi

Pertamina Rampingkan 31 Anak Usaha, Kejar Nilai Tambah bagi Negara

Pertamina rampingkan 31 anak usaha di semester I 2026, langkah efisiensi yang diharapkan memperbesar kontribusi laba bagi negara.

Pertamina menuntaskan penataan 31 anak usaha sepanjang semester pertama 2026. Langkah ini disebut jadi bagian dari upaya memperbesar kontribusi perusahaan terhadap perekonomian dan pendapatan negara dalam jangka panjang.

PT Pertamina (Persero) menuntaskan penataan, atau business streamlining, terhadap 31 anak usaha sepanjang semester pertama 2026. Kabar ini disampaikan lewat keterangan tertulis yang disebar Antara pada Minggu (5/7/2026), lalu dikutip ulang hampir seragam oleh puluhan media nasional.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono menyebut langkah ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2026 tentang percepatan penataan BUMN dan anak usahanya. Menurutnya, tujuan akhir program ini adalah penguatan ketahanan energi nasional sekaligus nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian negara.

Klaim itu bukan tanpa dasar. Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN Dony Oskaria pernah menyebut penggabungan sejumlah subholding Pertamina, di luar rilis ini, sudah menghasilkan efisiensi sekitar 600 hingga 700 juta dolar AS. Angka itu setara belasan triliun rupiah yang bisa dialihkan perusahaan untuk investasi atau, pada akhirnya, menambah setoran dividen ke negara.

Secara teknis, penataan 31 anak usaha ini dilakukan lewat tiga cara: merger, divestasi bisnis noninti, dan likuidasi entitas hulu migas yang sudah tidak aktif. “Walaupun entitas hulu migas yang dormant ini selama ini tidak ada pengeluaran baik untuk operasional maupun gaji direksi atau komisaris, namun tetap kami likuidasi sebagai bagian dari upaya merapikan struktur Pertamina Group,” kata Agung, sebagaimana dikutip Antara. Contoh paling nyata dari sisi merger terjadi pada 1 Februari 2026, ketika tiga anak usaha hilir digabung menjadi satu Subholding Downstream, dengan tujuan mempercepat pengambilan keputusan di rantai pasok bahan bakar.

Sebagai BUMN, laba Pertamina memang berujung ke kas negara lewat mekanisme dividen yang dikelola Danantara. Laporan kinerja BUMN periode April 2025 sampai April 2026 mencatat laba Pertamina naik sekitar 80 persen menjadi Rp24,9 triliun. Target laba konsolidasi seluruh BUMN pun dipatok Rp350 hingga Rp360 triliun pada akhir 2026, dengan Pertamina disebut sebagai salah satu penopang utamanya bersama Himbara, MIND ID, Telkom, dan PLN.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menambahkan, seluruh proses penataan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan manajemen risiko, dengan koordinasi bersama Danantara, Badan Pengelola BUMN, dan pemangku kepentingan internal termasuk serikat pekerja.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan agar kenaikan laba maupun perampingan struktur ini dilihat sebagai langkah awal, bukan hasil akhir. “Selama independensi pengelolaan, transparansi, dan mekanisme pengangkatan direksi belum benar-benar diperkuat, saya masih melihat capaian saat ini sebagai perbaikan kinerja keuangan tahap awal,” katanya. Pandangan ini tidak menafikan manfaat penataan, tapi menegaskan bahwa hasil jangka panjang, termasuk kontribusinya ke pendapatan negara, baru bisa dipastikan lewat laporan keuangan dan audit pada periode-periode berikutnya.

Jika tren efisiensi ini bertahan, dampaknya cukup logis untuk dihitung: struktur yang lebih ramping berarti biaya operasional yang lebih rendah, dan laba yang lebih besar untuk dibagi sebagai dividen ke negara. Pertanyaannya sekarang tinggal soal konsistensi, apakah 31 entitas yang ditata kali ini benar-benar diikuti perbaikan kinerja di lapangan pada laporan semester berikutnya.

Sumber & Rujukan:
  • Siaran pers Pertamina via Antara, “Pertamina rampungkan penataan 31 anak usaha pada semester I 2026” (5/7/2026)
  • Kompas.com, “Ekonom: Laba BUMN Naik, Belum Tentu Cerminkan Transformasi Fundamental” (5/7/2026)
  • Antara, “Ekonom nilai transformasi bisnis Pertamina perlu fokus pada efisiensi”